Saturday, October 3, 2009

100 Years "Five for fighting"

I'm 15 for a moment, caught in between 10 and 20
And I'm just dreaming, counting the ways to where you are
I'm 22 for a moment, she feels better than ever
And we're on fire, making our way back from Mars

15 there's still time for you
Time to buy and time to lose
15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live

I'm 33 for a moment..
Still the man but you see I'm a they
A kid on the way.. A family on my mind
I'm 45 for a moment
The sea is high and I'm heading into a crisis
Chasing the years of my life

15 there's still time for you
Time to buy, Time to lose yourself
Within a morning star
15 I'm all right with you
15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live

Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We're moving on...

I'm 99 for a moment
Dying for just another moment
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
15 there's still time for you
22 I feel her too
33 you’re on your way
Every day's a new day...

Wednesday, September 30, 2009

Aku Benci Jatuh Cinta…!!!

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.


*Tulisan ini terdapat dalam buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009), buku kumpulan surat cinta dari berbagai macam penulis.

Tuesday, April 21, 2009

22 April 2009

Tak kutemani lagi hatimu yang dingin.
karena kau lebih senang memilih pergi dariku.
merajut hari-hari di duniamu yang baru dengannya.
sesaat aku kehilanganmu,
aku hanya mau sesaat...
Karena aku yakin dapat melupakanmu.

dan semoga kau tak menyesal kelak.
I just want to say 'goodbye' to you...

Friday, July 6, 2007

Twenty First

hmmm.....!!!!
minggu depan mudik nih, udah gak sabar pengen segera pulang.
semoga membawa perubahan, perubahan baik...
menginstall ulang hati dan isi otak,
diisi file-file baru, install anti virus update'an terbaru
memeberantas virus-virus, worm, spyware, dll
yang udah lama menganggu kinerja otak dan hati.
menambah kapasitas RAM dan harddisk,
biar tambah pinter dan gak telmi lagi.
sampai ketemu lagi jogja sayang,
lima tahun menjadi bagianmu benar-benar membuatku jatuh hati padamu,
semoga besok aku hadir lagi dengan sesuatu yang baru...
love u jogja

Friday, June 29, 2007

Twentieth Posting

Apa yang akan terjadi besok
biarlah terjadi...
jangan pedulikan dan jangan takutkan,
lewati saja
lakukan saja semua niatan,
biarkan mengalir dan berlalu,
rasakan manis dan pahitnya
saat melewati garis emosi,
jangan takutkan apa jadinya
dan semua akan ada akhirnya...

Wednesday, May 23, 2007

Nineteenth Posting

Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja;
siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci.
Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja;
siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan menjadi orang yang kau cintai.(Imam Ali R.A.)

Nampaknya hadits di atas patut menjadi perhatian kita,
sebab nampaknya kita sudah terlalu bertekuk lutut dengan berhala cinta yang kita
puja-puja, cinta terhadap sesama manusia tentunya..
dan lebih banyak melupakan sang pencipta kita dan hari depan kita...!!!
Apa yang harus kita lakukan sekarang...?

Sunday, May 13, 2007

Eighteenth Posting

FATHER FOR SON

Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku

Ketika pakaianku terciprat minuman, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana aku dahulu mengajarimu. .

Ketika aku berulang-ulang mengatakan tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar,
bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku…
Aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau mengerti

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanmu, jangan marah padaku...
Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk untuk membujukmu mengerti

Ketika aku tak sedikitpun paham tentang teknologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau berjalan-jalan waktu dulu.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat,
karena waktu membuat ingatanku menjadi renta
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,
asalkan kau disamping mendengarkan aku sudah sangat puas...

Ketika kau memandang aku yang mulai merenta, jangan berduka..
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Saat itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani hidup ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku..

Beri aku cinta dan kesabaranmu, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,
dalam senyum ini terdapat do'a dan cintaku yang tak terhingga untukmu,